Wednesday, September 11, 2013

Antara Sahabat, Cita-cita & Cinta Oleh : Bobby Ahmad Wideni






            Tik tok tik tok , suara jam dinding yang berdetak dalam ruangan gelap di sebuah gubuk namun bak istana pesinggahan yang nyaman bagi temanku . Ya , aku sedang berkumpul di kost-an salah satu sahabatku .
            Kita hampir sampai . . . !” , seketika suara yang keluar dari pengeras suara berwarna merah memecahkan keheningan , suara dari laptop yang sedang memutar sebuah film karya penulis terkenal yang sedang naik daun .
            Inilah kebiasaan yang dilakukan oleh aku dan 6 orang sahabat-sahabatku setiap minggunya , kami selalu menyempatkan waktu setelah pulang sekolah di sela-sela kesibukan sebagai seoang pelajar . Sabtu sore adalah waktu yang selalu kami habiskan bersama dengan menonton film di kost-an sahabatku Gugun . “Dari pada keluyuran dan nongkrong-nongkrong gak jelas”, dalam benakku .
            Tak lama kemudian adzan ashar pun berkumandang di tengah-tengah ketegangan dalam film yang sedang memuncak , disaat bibir kering karena mulut yang terbuka tak disengaja , disaat mata yang seakan berhenti berkedip , dan disaat pikiran seperti hilang dari dunia nyata karena penghayatan yang dalam pada film yang ada di depan mata . Namun film hanyalah sekedar film , mau bagaimanapun shalat adalah kewajiban yang harus di segerakan .
            Mas, pause  dulu filmnya”, ujar Ebo kepada Tomas yang berada paling dekat dengan laptop.
Inilah enaknya nonton film dari kaset”, kata Gugun setelah Tomas mem-pause filmnya”.
Kalau di bioskop sih mana bisa di hentiin dulu”, ujar Umam menyambung perkataan Gugun .
            Lalu kami berenam pun mengambil wudhu dan bersiap-siap shalat berjamaah, kami tidak bertujuh karena Piko salah satu sahabatku beragama Nasrani , tetapi kami selalu toleransi dalam hal beragama .
            Setelah selesai melaksanakan kewajiban , kami pun kembali melanjutkan film yang tadi kami tonton . Piko sudah bersiap-siap untuk memutar film dengan meletakan jemari kecilnya di atas tombol space yang ada di laptop .
            Esok hari adalah awal libur kenaikan kelas , belum beres film yang lagi di tonton , namun otakku sudah berimajinasi untuk memikirkan hal menyenangkan apa yang bisa kami lakukan bersama pada saat liburan nanti . Selintas timbul kekhawatiran dalam benakku, hatiku seakan bertanya-tanya , bagaimana kalau kelas 2 nanti kita semua beda kelas ? Apa kita masih menyempatkan waktu untuk bersenang-senang bersama ? Atau malah kita saling sibuk dengan urusan kita masing-masing ? “Entahlah , mungkin itu hanya kekhawatiranku yang terlalu tinggi saja”, kataku dalam hati .
            Akhirnya aku menemukan ide dimana tempat kami untuk berlibur , tepat sekali dengan berakhirnya film yang sedang kami tonton .
Bagaimana kalau lusa kita ke bioskop ?”, tanyaku pada yang lain .
Boleh tuh , itung-itung liburan”, jawab Tedi kepadaku .
Hayu lah jadiin”, sahut Umam seakan menegaskan kalau kami jadi pergi ke bioskop.
Ebo, Gugun, Tomas, dan Piko pun sepertinya juga setuju meskipun mereka tak ikut menjawab karena sibuk menceritakan kejadian yang seru dari film yang baru saja di tonton.
            Di waktu yang sudah di tentukan kami pun jadi pergi ke bioskop . Sesuai dugaanku , disana kami bersenang-senang, menghabiskan waktu bersama , dan punya kenangan untuk bisa di ceritakan saat liburan usai dan harus masuk sekolah nanti . Liburanku seakan-akan di pergunakan dengan sangat baik .
* * *
            Tak terasa waktu terus berjalan , sudah dua minggu aku sekolah terhitung sejak hari pertama setelah libur akhir tahun . Hal yang menjadi  kekhawatiranku benar terjadi . Aku dan 6 sahabatku tidak sekelas lagi , ini berdampak pada intensitas kita untuk bersama , saling sibuk dengan tugas masing-masing , bahkan sepertinya Tedi, Piko, dan Umam sudah menemukan teman sepermainan yang baru .
            Namun aku tidak bisa menyalahkan yang lain , karena aku sendiri pun sibuk dengan urusanku akhir-akhir ini . Tidak lama lagi akan diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) dan setelahnya akan dilakukan pemilihan ketua Himpunan Siswa (HS) . Menjadi ketua HS adalah salah satu targetku yang ingin aku capai . Oleh karena itu aku terus mempersiapkan diriku untuk menghadapi dan mengikuti LDKS ini . Gak peduli sebesar apa rintangannya , yang terpenting bagaimana usahaku untuk mewujudkan hal yang sudah menjadi targetku .
            Diriku semakin termotivasi , semangatku berkobar , dan kepercayaan diriku semakin tinggi setelah sahabat-sahabatku pun ikut mendukungku agar keinginanku menjadi kenyataan .
* * *
            Akhirnya hari yang di nantikan pun datang , hari dimana aku harus membuktikn dan mengeluarkan semua kemampuanku . Begitu banyak peserta yang mengikuti LDKS ini , aku melihat ke sekeliling orang-orang yang akan menjadi saingan sekaligus rekan kerjaku nanti jika targetku terwujud .
            Namun seketika nafasku seperti tersendak , jantungku seperti berhenti tak berdetak , dan tubuhku seperti tak bisa bergerak . Pandanganku terhenti pada seorang wanita yang berdiri anggun di depan taman sekolah . Kakiku seakan ingin melangkah mendekatinya saat teman-temannya yang berbincang dengannya pergi. Kini dia sendirian . Aku terus memperhatikannya , sambil berharap dalam hati dia pun melakukan hal yang sama kepadaku .
            Jantungku berdebar kencang , dia menoleh kepadaku . Aku berrusaha agar tetap stay cool , namun tatapannya yang memandangku selama 5 detik membuatku jadi salah tingkah . Tetapi setelah dia berhenti menatapku , jantungku kembali berdetak normal , aliran darahku kembali turun setelah beberapa saat serasa naik , aku menarik nafas yang panjang . “Huff , sungguh 5 detik yang menegangkan”, dalam benakku .
            Sekarang semuanya berkumpul ! Setelah itu baris dengan rapi lalu masuk ke ruangan untuk menerima materi !”, nampak seorang senior panitia LDKS memberikan intruksi kepada seluruh peserta . Semua menuruti perintahnya , aku masuk ke ruangan dan memilih kursi paling depan .
            Aku terkejut ketika tiba-tiba ada yang memegang pundakku dari belakang dan dia berkata ,”boleh aku duduk di sebelah kamu ?”.
Pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan , pertanyaan yang terlontar dari bibir manis seseorang , dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah wanita yang terus aku pandangi tadi . Hal ini jelas membuat jantungku berdebar , dengan gugup aku menjawab, “ya  , boleh boleh”.
            Detik demi detik mulai di lewati , materi demi materi terus di sampaikan , banyak sekali ilmu yang aku dapatkan disini , sama halnya dengan informasi yang aku dapatkan tentang wanita yang duduk satu meja denganku . Obrolan-obrolan hangat selalu ku coba bangun di sela-sela pergantian materi . Sepertinya dia pun senang berbincang denganku , pembicaraan kami selalu nyambung , dan kemistri pun nampaknya mulai muncul . Sampai akhirnya aku mengetahui siapa dia , sebuah nama yang indah yang akan selalu ku ingat . ‘Calista’ , itulah nama yang kini ada di hatiku .
            Aku sangat senang ngobrol dengan sesekali diselingi candaan hangat dengan dia , namun aku pun tidak melupakan tujuan awalku mengikuti LDKS ini . Aku selalu serius dengan menyimak materi yang akan disampaikan , di akhir penyampaian materi aku selalu mengajukan pertanyaan bila di beri kesempatan untuk bertanya .
            Sampai pada akhirnya tibalah waktu pengumuman peserta terbaik . Akan di sebutkan 5 nama peserta terbaik , dan itulah yang akan menjadi kandidat ketua HS tahun ini .
            Satu per satu nama mulai disebutkan, aku sedikit tegang namun sangat optimistis kalau namaku akan disebut juga . Kini pengumuman peserta terbaik ke-3 , tetapi namaku belum disebut juga . Dan ketika peserta terbaik ke-2 di umumkan , akhirnya namaku di panggil . Meskipun bukan yang pertama , tapi aku sangat senang sekali .
            Setelah pengumuman itu kegiatan pun selesai , dan aku sadar kalau aku harus mempersiapkan diri untuk pemilihan nanti .
            Di pintu gerbang sekolah aku bertemu lagi dengan Calista , dia memberikan ucapan selamat kepadaku . Dengan gugup aku berkata,
“terimakasih , senang tadi bisa ngobrol banyak denganmu”
“iya aku juga , kapan-kapan semoga kita bisa ngobrol-ngobrol lagi”, sahutnya.
Boleh aku minta nomor handphone kamu ? Emm maksudnya biar bisa lebih akrab , tapi engga boleh juga gak apa-apa kok”, tanyaku gugup dan malu .
oh boleh banget kok , sebentar yah”, jawabnya .
            Dia pun mengambil secarik kertas dan pulpen , lalu dia memberikan kertas yang sudah ditetesi tinta hitam dari pulpen yang di pakai untuk menulis nomor teleponnya .
            Kami pun pulang ke rumah masing-masing karena hari mulai senja . Banyak yang aku dapatkan hari ini , ilmu-ilmu organisasi , materi-materi yang memotivasi , dan juga nomor telepon Calista yang memantapkan kesenangan hari ini .
* * *
            Siang berganti malam , matahari beristirahat dan bulan menggantikannya bertugas menyinari bumi dengan ditemani oleh ribuan bintang . Baru saja tadi sore aku bertemu dengan Calista , namun malam ini kangenku padanya sudah bukan kepayang . Dirinya terus berada dalam pikiranku , wajahnya seakan berada 30 cm di depan mataku , aku ingin dia selalu berada di sampingku .
            Aku harus nembak dia besok . Eh jamgan , lebih baik sekarang saja”, hatiku seperti berbicara seperti itu . Aku berpikir kalau lebih baik besok saja aku menembaknya langsung , karna itulah cara seorang laki-laki menyatakan cintanya secara jantan . Namun hati kecilku sudah tak kuasa tuk terus menunggu dengan kerinduan yang dalam seperti ini .
            Begitu lama ku pertimbangkan hal ini , dan akhirnya aku memutuskan untuk menembaknya malam ini juga .
Buat apa tadi aku minta nomor teleponnya kalau tak ku pergunakan”, hati dan pikiranku sudah berbicara satu nada dan irama . Lalu aku membuat puisi sederhana dan mengirimnya lewat sms seperti ini :
Tak perlu 1000 kata indah,
Untuk menggambarkan suasana hati ini.
Tak perlu ribuan janji,
Agar kau percaya kepadaku.

Karna aku bukanlah pujangga,
Yang mampu membuat ribuan kata manis.
Aku pun bukan malaikat,
Yang bisa selalu berada di sampingmu.

Namun aku hanyalah insan biasa,
Yang mencintaimu secara sederhana.
Karna cinta yang tulus,
Hadir dari sebuah kesederhanaan.

Sederhana saja . . .
Aku mencintaimu saat ku pertama melihatmu.
Dan kini ku hanya ingin bilang ,
kalau,”Aku Padamu” , dan berharap
kalau “Kamu pun Padaku”.

            Ku tunggu jawaban darinya , namun satu jam berlalu handphone ku tak kunjung bergetar . Aku pun mulai berpikir kalau dia tidak suka kepadaku , dia ilIfeel kepadaku karna dia dekat denganku, karena ingin menjadikanku temannya bukan teman yang lebih , atau bahkan dia mungkin membenciku karna aku terlalu cepat untuk mengatakan ini , padahal aku baru saja mengenalnya . Ah sudahlah , lebih baik aku tidur dan mempersiapkan diri untuk pemilihan ketua HS nanti .
            Tepat pukul 04.34 hal yang kunantikan pun datang , handphone ku bergetar oleh pesan yang di kirimkan oleh Calista . Aku sangat senang sekali , tak peduli apa pun balasannya , yang penting aku senang kalau aku gak salah kirim ke nomor orang . Dan ketika ku buka isi pesannya , hanya tiga kata yang ada dalam pesan itu , “Aku pun Padamu”.
            Aku senang sekali , bunga cinta bermekaran dalam hidupku , seperti lagunya ‘adera’ . Tak ku sangka kalau dia pun menyukaiku . tak ku sangka juga kalau jalan cintaku akan semulus seperti ini .
            Aku langsung menghubungi sahabat-sahabatku untuk mengajak mereka berkumpul setelah pulang sekolah nanti . Karena aku sadar kalau kami sudah lama tidak berkumpul lagi . Sekalian aku ingin bercerita tentang hubunganku dengan Calista dan juga mengajak mereka untuk menjadi tim suksesku dalam pencalonan ketua HS nanti
Kriiiiiiiing . . “, suara bel pulang berbunyi . Aku langsung lari ke taman belakang sekolah tempat kami janjian untuk bertemu . Aku yang pertama sampai sana , lalu Ebo, Gugun, dan Tomas datang secara bersamaan
Hey kalian , kemana Piko, Umam, sama Tedi ?” , tanyaku dengan santai .
Mereka bilangnya banyak tugas , terus bilangnya ada janjilah sama temen” jawab Ebo .
Makin kesini mereka makin susah kalau di ajak main sama kita”, ucap gugum menambahkan.
Udah sih biarin , gak usah di anggap aja mereka sebagai temen main kita”, kata Tomas dengan kesal .
Ya gak bisa gitu dong, kita dari dulu main bareng , masa iya sih mau gitu aja mereka pergi , sama kita di biarin”, kataku menanggapi perkataan Tomas.
Mau gimana lagi ? Mereka aja gak peduli lagi sama kita !”, ucap Tomas kesal .
            Keadaan pun hening sejenak , karna aku pun tidak tahu harus bagaimana .
Gimana kalau kita buat komitmen aja ?”, kata Ebo memecah keheningan .
Komitmen gimana maksudnya ?”, tanya Gugun bingung .
Ya kita janji kalau kita selalu menyempatkan waktu selama kita masih bisa”, jawab Ebo .
Nah ide bagus , kita buat komitmen kalau kita selalu bersama , tapi kita tetep ngajak Piko, Tedi, sama Umam kalau kita ada kumpul”, kata ku menambahkan perkataan Ebo .
“Oke , setuju !”
“Setuju”
“Setuju !”
            Kita pun berkomitmen dan berjanji untuk memegang komitmen itu . Setelah itu aku menyambung dengan hal yang aku alami , begitu pun dengan mereka . Kami saling berbagi cerita sambil ngobrol-ngobrol gak jelas . Dan di akhir obrolan aku mengajak mereka untuk menjadi tim suksesku . Mereka sangat antusias sekali dan bersemangat untuk mendukungku di pemilihan ketua HS .
            Sampai H-1 sebelum pemilihan , aku semakin yakin kalau diriku akan memenangkan pemilihan suara besok . Pendukungku semakin banyak , sahabatku yang menjadi tim suksesku telah mampu meyakinkan banyak siswa yang lain untuk memilih diriku .
            Di H-1 semua kandidat calon ketua HS dikumpulkan untuk mendapatkan pengarahan dari kepala sekolah sebagai bekal untuk menjadi ketua HS . Aku menjadi pendengar yang baik ketika beliau berbicara , sampai suatu kalimat keluar dari mulutnya . “Entah siapapun nanti yang akan terpilih , Ibu ingin menegaskan satu hal kalau ketua HS tidak boleh mempunyai hubungan apapun dengan lawan jenisnya karna kalian adalah figur bagi siswa yang lain”.
            Aku sangat bimbang dengan keadaan ini . Jika aku menjadi ketua HS , itu artinya aku harus mengakhiri hubungan yang baru saja aku jalin dengan Calista . Hubunganku yang baru seumur jagung tak mungkin ku akhiri begitu saja , namun ku juga tak bisa dengan mudah melepaskan impianku yang  kini sudah di depan mata . Sungguh ku baru pertama kali mengalami kebimbangan seperti ini .
            Dalam benakku aku memegang prinsip , “Sahabat adalah yang selalu membuatku bahagia, Ketua HS adalah impianku saat ini , dan Cinta sebagai pemanisnya
* * *